Book
Demokrasi Tanpa Demos, Refleksi 100 Ilmuwan Sosial Politik Tentang Kemunduran Demokrasi di Indonesia
Demokrasi di Indonesia merupakan hasil dari proses sejarah dan politik yang panjang. Perkembangan demokrasi di dunia secara umum, hingga khususnya di Indonesia, di mulai dari pengertian dan konsepsi demokrasi itu sendiri menurut para tokoh dan founding fathers Kemerdekaan Indonesia, terutama Soekarno, Mohammad Hatta, dan Soetan Sjahrir. Perkembangan demokrasi di Indonesia sendiri dimulai dari masa pasca-kemerdekaan Indonesia, berdirinya Republik Indonesia Serikat, kemunculan fase kediktatoran Soekarno dalam Orde Lama, dan Soeharto dalam Orde Baru, hingga proses konsolidasi pasca-reformasi di tahun 1998 sampai saat ini. Akan tetapi, tampaknya dalam beberapa tahun terakhir, demokrasi di Indonesia mengalami kemunduran.Banyak akademisi dari berbagai perguruan tinggi di dunia mengungkapkan kondisi tersebut dalam buku yang berjudul “Demokrasi Tanpa Demos: Refleksi 100 Ilmuwan Sosial Politik Tentang Kemunduran Demokrasi di Indonesia”. Buku tersebut diluncurkan sebagai rangkaian acara Ulang Tahun Emas Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) dalam sebuah acara puncak pada 19 Agustus 2021. Akademisi dari Fakultas Hukum Universitas Airlangga tampaknya juga turut serta berperan aktif menulis dalam buku tersebut yaitu, Dr. R. Herlambang Perdana Wiratraman, S.H., M.A. yang membawakan judul “Penjinakan Intelektual dan Serangan Terhadap Kebebasan Akademik” sekaligus bergabung sebagai tim editorial serta Amira Paripurna, S.H., LL.M., Ph.d. yang juga tergabung dalam forum diskusi 100 Ilmuwan.Buku itu sendiri merupakan ikhtiar untuk mendorong konsolidasi demokrasi agar tidak di biarkan sehingga selalu dikuasai oligarki. Selain sebagai upaya menantang oligarki, buku tersebut juga bertujuan untuk memperkuat konsolidasi masyarakat sipil, melalui jejaring intelektual, sehingga dapat menstimulus lahirnya generasi baru. Sedangkan judul tersebut diambil dari satu garis besar yang menyoroti masalah pelik demokrasi di bangsa ini. Masalah itu tak lain dan tak bukan merupakan hilangnya demos dari proses demokrasi. Hal ini tampak dari adanya pemimpin yang terpilih melalui proses yang demokratis, tetapi berputar balik membelakangi masyarakat sipil serta mengkhianati nilai-nilai demokrasi. Menjadi unik karena sampul dari buku tersebut memajang seluruh orang yang terlibat dalam forum ilmuwan. Keunikan tersebut dimaknai sebagai simbol bahwa LP3ES bersama dengan para intelektual lebih memilih untuk bersama demos dalam merayakan setengah abad usianya. Mereka yang banyak jumlahnya, yang sering kali terlupakan wajahnya.
No other version available